PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Ikan patin merupakan jenis ikan
konsumsi air tawar, berbadan panjang berwarna putih perak dengan punggung
berwarna kebiru‐biruan. Ikan
patin dikenal sebagai komoditi yang berprospek cerah, karena memiliki harga
jual yang tinggi. Hal inilah yang menyebabkan ikan patin mendapat perhatian dan
diminati oleh para pengusaha untuk membudidayakannya. Ikan ini cukup responsif
terhadap pemberian makanan tambahan. Pada pembudidayaan, dalam usia enam bulan
ikan patin bisa mencapai panjang 35‐40 cm.
Sebagai keluargaPangasidae, ikan ini tidak membutuhkan perairan yang mengalir
untuk “membongsorkan“ tubuhnya. Pada perairan yang tidak mengalir dengan
kandungan oksigen rendahpun sudah memenuhi syarat untuk membesarkan ikan ini.
Ikan patin berbadan panjang untuk
ukuran ikan tawar lokal, warna putih seperti perak, punggung berwarna kebiru‐biruan. Kepala ikan patin relatif kecil, mulut
terletak di ujung kepala agak di sebelah bawah (merupakan ciri khas golongan
catfish). Pada sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang berfungsi
sebagai peraba.
Kerabat patin di Indonesia terdapat cukup
banyak, diantaranya:
a)Pangasius polyuranodo (ikan juaro)
b) Pangasius macronema
c) Pangasius micronemus
d) Pangasius nasutus
e) Pangasius nieuwenhuisii
1.2
RUMUSAN MASALAH
1.
Apakah persyaratan lokasi dan pedoman teknis untuk budidaya ikan patin ?
2.
Apakah hama penyakit pada budidaya ikan patin ?
1.3TUJUAN
PENULISAN
Tujuan
diadakanya penulisan ini adalah :
1.
Diajukan untuk melengkapi salah satu tugas.
2.
Untuk mengkaji dan menganalisa Pembudidayaan Ikan Patin.
3.
Sebagai sarana untuk meningkatkan wawasan dan juga ilmu bagi penulis sendiri
khususnya tentang Pembudidayaan Ikan Patin.
1.4 MANFAAT.
Adapun
manfaat penulisan yang ingin dicapai dalam pembuatan karya ilmiah ini adalah :
1. Dengan adanya penuliasan ini
diharapkan untuk meningkatkan keberanian dan juga mentalitas penulis sebagai
bekal menghadapi masa depan yang penuh persaingan.
2. Penulisankarya ilmiah ini diharapkan
mampu memberikan penjelasan bagaimana proses dalam melakukan pembudidayaan ikan
nila.
3. Dapat bermanfaat sebagai bahan
refrensi dan penulisan karya ilmiah kedepanya, sehingga membawa manfaat bagi
para pembaca.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Persyaratan Lokasi dan Pedoman
Teknis Budidaya
2.1.1. Persyaratan
Lokasi
Untuk
persyaratan lokasi pembudidayaan ikan patin, tidak lah terlalu sulit
berikut syarat‐syaratnya :
- Tanah
yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,tidak
berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan
tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
- Kemiringan
tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3‐5% untuk memudahkan pengairan kolam secara
gravitasi.
- Apabila
pembesaran patin dilakukan dengan jala apung yang dipasang
- disungai
maka lokasi yang tepat yaitu sungai yang berarus lambat.
- Kualitas
air untuk pemeliharaan ikan patin harus bersih, tidak terlalu keruhdan
tidak tercemar bahan‐bahan
kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kualitas air harus diperhatikan,
untuk menghindari timbulnya jamur, maka perlu ditambahkan larutan
penghambat pertumbuhan jamur (Emolin atau Blitzich dengan dosis 0,05
cc/liter).
- Suhu
air yang baik pada saat penetasan telur menjadi larva di akuarium
- adalah
antara 26‐28
derajat C. Pada daerah‐daerah
yang suhu airnya relatif rendah diperlukan heater (pemanas) untuk mencapai
suhu optimal yang relatif stabil.
- Keasaman
air berkisar antara: 6,5‐7
2.1.2. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Budidaya
ikan patin meliputi beberapa kegiatan, secara garis besar dibagi menjadi 2
kegiatan yaitu pembenihan dan pembesaran. Kedua jenis kegiatan ini umumnya
belum populer dilakukan oleh masyarakat, karena umumnya masih mengandalkan
kegiatan penangkapan di alam (sungai, situ, waduk, dan lain‐ lain) untuk memenuhi kebutuhan akan ikan patin.
Kegiatan
pembenihan merupakan upaya untuk menghasilkan benih pada ukuran tertentu.
Produk akhirnya berupa benih berukuran tertentu, yang umumnya adalah benih
selepas masa pendederan. Benih ikan patin dapat diperoleh dari hasil tangkapan
di perairan umum. Biasanya menjelang musim kemarau pada pagi hari dengan
menggunakan alat tangkap jala atau jaring. Benih dapat juga dibeli dari Balai
Pemeliharaan Air Tawar di Jawa Barat. Benih dikumpulkan dalam suatu wadah, dan
dirawat dengan hati‐hati selama
2 minggu. Jika air dalam penampungan sudah kotor, harus segera digantidengan
air bersih, dan usahakan terhindar dari sengatan matahari. Sebelum benih
ditebar, dipelihara dulu dalam jaring selama 1 bulan, selanjutnya dipindahkan
ke dalam hampang yang sudah disiapkan.
Secara garis besar usaha pembenihan
ikan patin meliputi kegiatan‐kegiatan
sebagai berikut:
a) Pemilihan calon induk siap pijah.
b) Persiapan hormon
perangsang/kelenjar hipofise dari ikan donor, yaitu ikan mas.
c) Kawin suntik (induce breeding).
d) Pengurutan (striping).
e) Penetasan telur.
f) Perawatan larva.
g) Pendederan.
h) Pemanenan.
Pada usaha
budidaya yang semakin berkembang, tempat pembenihan dan pembesaran sering kali
dipisahkan dengan jarak yang agak jauh. Pemindahan benih dari tempat pembenihan
ke tempat pembesaran memerlukan penanganan khusus agar benih selamat.
Keberhasilan transportasi benih ikan biasanya sangat erat kaitannya dengan
kondisi fisik maupun kimia air, terutama menyangkut oksigen terlarut, NH3, CO2
, pH, dan suhu air.
2.1.2.1.
Penyiapan Sarana dan Peralatan
Lokasi kolam
dicari yang dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Kolam dibangun di lahan
yang landai dengan kemiringan 2‐5% sehingga
memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
1) Kolam pemeliharaan induk
Luas kolam
tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaannya. Sebagai contoh untuk 100
kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter persegi bila hanya mengandalkan
pakan alami dan dedak. Sedangkan bila diberi pakan pelet, maka untuk 100 kg
induk memerlukan luas 150‐200 meter
persegi saja. Bentuk kolam sebaiknya persegi panjang dengan dinding bisa
ditembok atau kolam tanah dengan dilapisi anyaman bambu bagian dalamnya. Pintu
pemasukan air bisa dengan paralon dan dipasang sarinya, sedangkan untuk
pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik.
2) Kolam pemijahan
Tempat
pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok. Ukuran/luas kolam pemijahan
tergantung jumlah induk yang dipijahkan dengan bentuk kolam empat persegi
panjang. Sebagai patokan bahwa untuk 1 ekor induk dengan berat 3 kg memerlukan
luas kolam sekitar 18 m2 dengan 18 buah ijuk/kakaban. Dasar kolam dibuat miring
kearah pembuangan, untuk menjamin agar dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu
pemasukan bisa dengan pralon dan pengeluarannya bisa juga memakai pralon (kalau
ukuran kolam kecil) atau pintu monik. Bentuk kolam penetasan pada dasarnya sama
dengan kolam pemijahan dan seringkali juga untuk penetasan menggunakan kolam
pemijahan. Pada kolam penetasan diusahakan agar air yang masuk dapat menyebar
ke daerah yang ada telurnya.
3) Kolam pendederan
Bentuk kolam
pendederan yang baik adalah segi empat. Untuk kegiatan pendederan ini biasanya
ada beberapa kolam yaitu pendederan pertama dengan luas 25‐500 m2 dan pendederan lanjutan 500‐1000 m2 per petak. Pemasukan air bisa dengan pralon
dan pengeluaran/ pembuangan dengan pintu berbentuk monik. Dasar kolam dibuatkan
kemalir (saluran dasar) dan di dekat pintu pengeluaran dibuat kubangan. Fungsi
kemalir adalah tempat berkumpulnya benih saat panen dan kubangan untuk
memudahkan penangkapan benih. dasar kolam dibuat miring ke arah pembuangan.
Petak tambahan air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air sungai) maka perlu
dibuat bak pengendapan dan bak penyaringan.
2.1.2.2.
Pembibitan
Supaya
mendapatkan hasil yang diharapkan maka pembibitan harus
perlu di perhatikan hal‐hal sebagai berikut :
1) Menyiapkan Bibit
Bibit yang
hendak dipijahkan bisa berasal dari hasil pemeliharaan dikolam sejak kecil atau
hasil tangkapan dialam ketika musim pemijahan tiba. Induk yang ideal adalah
dari kawanan patin dewasa hasil pembesaran dikolam sehingga dapat dipilihkan
induk yang benar‐benar
berkualitas baik.
2) Perlakuan dan Perawatan Bibit
Induk patin
yang hendak dipijahkan sebaiknya dipelihara dulu secara khusus di dalam sangkar
terapung. Selama pemeliharaan, induk ikan diberi makanan khusus yang banyak
mengandung protein. Upaya untuk memperoleh induk matang telur yang pernah
dilakukan oleh Sub Balai Penelitian Perikanan Air Tawar Palembang adalah dengan
memberikan makanan berbentuk gumpalan (pasta) dari bahan‐bahan pembuat makanan ayam dengan komposisi tepung
ikan 35%, dedak halus 30%, menir beras 25%, tepung kedelai 10%, serta vitamin
dan mineral 0,5%.Makanan diberikan lima hari dalam seminggu sebanyak 5% setiap
haridengan pembagian pagi hari 2,5% dan sore hari 2,5%. Selain itu, diberikan
jugarucah dua kali seminggu sebanyak 10% bobot ikan induk. Langkah inidilakukan
untuk mempercepat kematangan gonad.
Ciri‐ciri induk patin yang sudah matang gonad dan siap
dipijahkan adalahsebagai berikut :
a. Induk betina
·
Umur tiga tahun.
·
Ukuran 1,5‐2 kg.
·
Perut membesar ke arah anus.
·
Perut terasa empuk dan halus bila di raba. Kloaka
membengkak dan berwarna merah tua.‐Kulit pada
bagian perut lembek dan tipis.
·
kalau di sekitar kloaka ditekan akan keluar beberapa
butir telur yang bentuknya bundar dan besarnya seragam.
b. Induk jantan
·
Umur dua tahun.
·
Ukuran 1,5‐2 kg.
·
Kulit perut lembek dan tipis.
·
Bila diurut akankeluar cairan sperma berwarna putih.
·
Kelamin membengkak dan berwarna merah tua
Benih ikan
patin yang berumur 1 hari dipindahkan ke dalam akuarium berukuran 80 cm x 45 cm
x 45 cm. Setiap akuarium diisi dengan air sumur bor yang telah diaerasi.
Kepadatan penebaran ikan adalah 500 ekor per akuarium. Aerator ditempatkan pada
setiap akuarium agar keperluan oksigen untuk benih dapat tercukupi. Untuk
menjaga kestabilan suhu ruangan dan suhu air digunakan heater atau dapat
menggunakan kompor untuk menghemat dana.
Benih umur
sehari belum perlu diberi makan tambahan dari luar karena masih mempunyai
cadangan makanan berupa yolk sac atau kuning telur. Pada hari ketiga, benih
ikan diberi makanan tambahan berupa emulsi kuning telur ayam yang direbus.
Selanjutnya berangsur‐angsur
diganti dengan makanan hidup berupa Moina cyprinacea atau yang biasa dikenal
dengan kutu air dan jentik nyamuk.
Pembesaran
ikan patin dapat dilakukan di kolam, di jala apung, melaluisistem pen dan dalam
karamba.
a)
Pembesaran ikan patin di kolam dapat dilakukan melalui sistem monokulturmaupunpolikultur.
b) Pada
pembesaran ikan patin di jala apung, hal‐hal yang
perlu diperhatikan adalah: lokasi pemeliharaan, bagaimana cara menggunakan jala
apung, bagaimana kondisi perairan dan kualitas airnya serta proses
pembesarannya.
c) Pada pembesaran
ikan patin sistem pen, perlu diperhatikan: pemilihan lokasi, kualitas air,
bagaimana penerapan sistem tersebut, penebaran benih, dan pemberian pakan serta
pengontrolan dan pemanenannya.
d) Pada
pembesaran ikan patin di karamba, perlu diperhatikan masalah: pemilihan lokasi,
penebaran benih, pemberian pakan tambahan, pengontrolan dan pemanenan.
Hampang
dapat terbuat dari jaring, karet, bambu atau ram kawat yangdilengkapi dengan
tiang atau tunggak yang ditancapkan ke dasar perairan.Lokasi yang cocok untuk
pemasangan hampang : kedalaman air 0,5‐3 m dengan fluktuasi kedalaman tidak lebih dari 50 cm,
arus tidak terlalu deras, tetapi cukup untuk sirkulasi air dalam hampang.
Perairan tidak tercemar dan dasarnya sedikit berlumpur. Terhindar dari
gelombang dan angin yang kencang serta terhindar dari hama, penyakit dan
predator (pemangsa). Pada perairan yang dasarnya berbatu, harus digunakan
pemberat untuk membantu mengencangkan jaring. Jarak antara tiang bambu/kayu
sekitar 0,5‐1 m.
2.1.2.3. Pemeliharaan Pembesaran
Hal‐hal yang perlu di perhatikan dalam pemeliharaan
pembesaran
1) Pemupukan
Pemupukan
kolam bertujuan untuk meningkatkan dan produktivitas kolam,yaitu dengan cara
merangsang pertumbuhan makanan alami sebanyakbanyaknya. Pupuk yang biasa
digunakan adalah pupuk kandang atau pupuk hijau dengan dosis 50‐700 gram/m2
2) Pemberian Pakan
Pemberian
makan dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore). Jumlah makanan yang diberikan
per hari sebanyak 3‐5% dari
jumlah berat badan ikan peliharaan. Jumlah makanan selalu berubah setiap bulan,
sesuai dengan kenaikan berat badan ikan dalam hampang. Hal ini dapat diketahui
dengan cara menimbangnya 5‐10 ekor ikan
contoh yang diambil dari ikan yang dipelihara (smpel).
3) Pemeliharaan Kolam dan Tambak
Selama
pemeliharaan, ikan dapat diberi makanan tambahan berupa pellet setiap hari dan
dapat pula diberikan ikan‐ikan
kecil/sisa (ikan rucah) ataupun sisa dapur yang diberikan 3‐4 hari sekali untuk perangsang nafsu makannya
2.2. Hama dan Penyakit Pada Ikan Patin
2.2.1. Hama
Pada
pembesaran ikan patin di jaring terapung hama yang mungkin menyerang antara
lain lingsang, kura‐kura,
biawak, ular air, dan burung. Hama serupa juga terdapat pada usaha pembesaran
patin sistem hampang (pen) dan karamba. Karamba yang ditanam di dasar perairan
relatif aman dari serangan hama. Pada pembesaran ikan patin di jala apung
(sistem sangkar ada hama berupa ikan buntal (Tetraodon sp.) yang merusak jala
dan memangsa ikan. Hama lain berupa ikan liar pemangsa adalah udang, dan seluang
(Rasbora). Ikan‐ikan kecil
yang masuk kedalam wadah budidaya akan menjadi pesaing ikan patin dalam hal
mencari makan dan memperoleh oksigen.
Untuk
menghindari serangan hama pada pembesaran di jala apung (rakit) sebaiknya
ditempatkan jauh dari pantai. Biasanya pinggiran waduk atau danau merupakan
markas tempat bersarangnya hama, karena itu sebaiknya semak belukar yang tumbuh
di pinggir dan disekitar lokasi dibersihkan secara rutin.
Cara untuk
menghindari dari serangan burung bangau (Lepto‐tilusjavanicus),
pecuk (Phalacrocorax carbo sinensis), blekok (Ramphalcyon capensiscapensis)
adalah dengan menutupi bagian atas wadah budi daya denganlembararan jaring dan
memasang kantong jaring tambahan di luar kantong jaring budi daya. Mata jaring
dari kantong jaring bagian luar ini dibuat lebih besar. Cara ini berfungsi
ganda, selain burung tidak dapat masuk, ikan patin juga tidak akan berlompatan
keluar.
2.2.2.
Penyakit
Penyakit
ikan patin ada yang disebabkan infeksi dan non‐infeksi.
Penyakit noninfeksi adalah penyakit yang timbul akibatadanya gangguan faktor
yang bukan patogen. Penyakit non-infeksi ini tidak menular. Sedangkan
penyakit akibat infeksi biasanya timbul karena gangguan organisme patogen.
1) Penyakit akibat infeksi
Organisme
patogen yang menyebabkan infeksi biasanya berupa parasit, jamur, bakteri, dan
virus. Produksi benih ikan patin secara masal masih menemui beberapa kendala
antara lain karena sering mendapat seranganparasitIchthyoptirus multifilis
(white spot) sehingga banyak benih patin yang mati,terutama benih yang berumur
1-2 bulan.
Dalam usaha pembesaran patin belum ada laporan yang mengungkapkan secara
lengkap serangan penyakit pada ikan patin, untuk pencegahan.
Beberapa penyakit akibat infeksi
berikut ini sebaiknya diperhatikan.
a. Penyakit parasit
Penyakit
white spot (bintik putih) disebabkan oleh parasit dari bangsa protozoa dari
jenis Ichthyoptirus multifilis Foquet. Pengendalian: menggunakan metil biru
atau methilene blue konsentrasi 1% (satu gram metil biru dalam 100 cc air).
Ikan yang sakit dimasukkan ke dalam bak air yang bersih, kemudian kedalamnya
masukkan larutan tadi. Ikan dibiarkan dalam larutan selama 24 jam. Lakukan
pengobatan berulang-ulang selama tiga kali dengan selang waktu sehari.
b. Penyakit jamur
Penyakit
jamur biasanya terjadi akibat adanya luka pada badan ikan. Penyakit ini
biasanya terjadi akibat adanya luka pada badan ikan. Penyebab penyakit jamur
adalah Saprolegnia sp. dan Achlya sp. Pada kondisi air yang jelek, kemungkinan
patin terserang jamur lebih besar. Pencegahan penyakit jamur dapat dilakukan
dengan cara menjaga kualitas air agar kondisinya selalu ideal bagi kehidupan
ikan patin. Ikan yang terlanjur sakit harus segera diobati. Obat yang biasanya
di pakai adalah malachyt green oxalate sejumlah 2-3 g/m air (1 liter) selama 30 menit.
Caranya rendam ikan yang sakit dengan larutan tadi, dan di ulang sampai tiga
hari berturut-turut.
c. Penyakit bakteri
Penyakit
bakteri juga menjadi ancaman bagi ikan patin. Bakteri yang sering menyerang adalah
Aeromonas sp. dan Pseudo-monas sp. Ikan yang terserang akan mengalami
pendarahan pada bagian tubuh terutama di bagian dada, perut, dan pangkal sirip.
Penyakit bakteri yang mungkin menyerang ikan patin adalah penyakit bakteri yang
juga biasa menyerang ikan-ikan air tawar jenis lainnya, yaitu Aeromonas sp. dan
Pseudomonas sp. Ikan patin yang terkena penyakit akibat bakteri, ternyata mudah
menular, sehingga ikan yang terserang dan keadaannya cukup parah harus segera
dimusnahkan. Sementara yang terinfeks, tetapi belum parah dapat dicoba dengan
beberapa cara pengobatan. Antara lain:
- Dengan
merendam ikan dalam larutan kalium permanganat (PK) 10-20 ppm selama
30-60 menit,
- Merendam
ikan dalam larutan nitrofuran 510 ppm selama 12-24 jam,
atau
- merendam
ikan dalam larutan oksitetrasiklin 5 ppm selama 24 jam.
2) Penyakit non-infeksi
Penyakit non-infeksi
banyak diketemukan adalah keracunan dan kurang gizi. Keracunan disebabkan oleh
banyak faktor seperti pada pemberian pakan yang berjamur dan berkuman atau
karena pencemaran lingkungan perairan. Gajala keracunan dapat diidentifikasi
dari tingkah laku ikan.
a) Ikan akan
lemah, berenang megap-megap dipermukaan air. Pada kasus yang berbahaya, ikan
berenang terbalik dan mati. Pada kasus kurang gizi, ikan tampak kurus dan
kepala terlihat lebih besar, tidak seimbang dengan ukuran tubuh, kurang lincah
dan berkembang tidak normal.
b) Kendala
yang sering dihadapi adalah serangan parasit Ichthyoptirus multifilis(white
spot) mengakibatkan banyak benih mati, terutama benih yangberumur 1-2 bulan.
c) Penyakit ini dapat membunuh ikan
dalam waktu singkat.
d) Organisme
ini menempel pada tubuh ikan secara bergerombol sampairatusan jumlahnya
sehingga akan terlihat seperti bintik‐bintik
putih.
e) Tempat
yang disukai adalah di bawah selaput lendir sekaligus merusakselaput lendir
tersebut.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dengan adanya luas perairan umum di
Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa, danau alam dan buatan seluas hampir
mendekati 13 juta ha merupakan potensi alam yang sangat baik bagi pengembangan
usaha perikanan di Indonesia. Disamping itu banyak potensi pendukung lainnya
yang dilaksanakan oleh pemerintah dan swasta dalam hal permodalan, program
penelitian dalam hal pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan
pasca panen, penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan
import.
Walaupun permintaan di tingkal
pasaran lokal akan ikan patin dan ikan air tawar lainnya selalu mengalami
pasang surut, namun dilihat dari jumlah hasil penjualan secara rata-rata selalu
mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Apabila pasaran lokal ikan patin
mengalami kelesuan, maka akan sangat berpengaruh terhadap harga jual baik di
tingkat petani maupun di tingkat grosir di pasar ikan. Selain itu penjualan
benih ikan patin boleh dikatakan hampir tak ada masalah, prospeknya cukup baik.
Selain adanya potensi pendukung dan faktor permintaan komoditi perikanan untuk
pasaran lokal, maka sektor perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis
yang cerah.
3.2
Saran
1. Kepada Pengusaha ikan nila
Jangan
bosan untuk membudidayakan ikan nila, karena hasil yang di dapatkan cukup
tinggi. Sebaiknya pengusaha budidaya ikan nila dapat mengikuti
penyuluhan-penyuluhan yang diadakan oleh dias perikanan dan
intansi-intansi
laianya.
2. Pemerintah
Agar
lebih memperhatikan lagi pengusaha-pengusaha ikan nila terutama pengusaha kecil
dan pengusaha menengah, dengan melakukan penyuluhan-penyuluhan untuk menambah
wawasan.
DAFTAR PUSTAKA
Aida,Siti
Nurul.1993.Pengaruh Pemberian Kapur Pada
MutuAir dan Pertumbuhan Ikan Patin.Jakarta:Gramedia
Arifin,Zainal.1987.PembenihanIkan Patin (Pangasius
pangasius)Dengan Rangsangan Hormon.Bandung: Buletin Penelitian Perikanan
Darat.
Balai Informasi
Pertanian.1970. Budidaya Ikan Air Tawar
dan Payau.Bogor:IPB.
Susanto, Heru.1999. Budi Daya Ikan Patin. Jakarta:Penebar Swadaya.
Syamsudin, A.R.1981. Pengantar Perikanan. Jakarta: Karya
Nusantara.
Syamsudin,
A.R. 1981. Pengantar Perikanan.
Jakarta: Karya Nusantara,hal 3.
Balai
Informasi Pertanian. 1970. Budidaya Ikan
Air Tawar dan Payau. Bogor: IPB,hal 18.
Aida, Siti
Nurul.1993.Pengaruh Pemberian Kapur Pada
MutuAir dan Pertumbuhan Ikan Patin.Jakarta: Gramedia,hal 28.
Susanto, Heru .1999. Budi Daya Ikan Patin. Jakarta:Penebar
Swadaya,hal 14.
Arifin, Zainal.1987.PembenihanIkan Patin (Pangasius
pangasius)Dengan Rangsangan Hormon.Bandung: Buletin Penelitian Perikanan
Darat,hal 30.